Moving On
14.09.00
September 2014.
Tiga pasang manusia berikrar janji sehidup semati di sisi samudera hindia. One lesbian couple. One gay couple. And one straight couple.
Aku datang bersama Y. Setelah mengemudi dari kota tiga jam lamanya. Semua orang tampak bahagia dengan setelan putih masing2. Hanya ada tiga puluhan orang. Dan dua pertiganya bertanya pada kami, "kapan menyusul?"
Tidak ada jawaban yang bisa kutawarkan selain senyum dan ocehan entah. Berkelit bak belut berusaha lepas dari genggaman.
Y, yang jemarinya masih terkait erat di jariku, menatapku dan berkata, "Harusnya kita sekalian, yah!"
Jleb. Mata bulatnya menusuk tajam ke hatiku. Dan aku berpaling, menghindari apa yang tak sanggup kuhadapi. Perasaanku sendiri.
Sembilan bulan setelah itu. Lima bulan setelah kuputuskan berpisah. Sebuah surel masuk ke emailku. Dear Tama, judulnya. Dua halaman lebih. Terpanjang dari yang pernah ditulisnya untukku.
"Saat kita bersama di pantai untuk Pernikahan Galink, Ayu dan Dewi, aku berpikir, apakah nanti aku bisa menikah dengan muki, aku bahagia jika bisa, tapi aku melihat muki dengan pandangan kosong…di saat itu aku merasa ada yang tidak biasa…muki memang menggenggam tanganku, tapi muki kehilangan rasa…"
Ya. Kami tahu. Sama-sama tahu. Selalu tahu...
Aku senang dia menuliskannya. Mengakuinya. Semoga ini menjadi titik awal baginya. Untuk kembali melanjutkan hidup.
Because life goes on and on. And neither her nor I deserve to live in lies.
0 comments