Gandengan tangan dan berpelukan pernah jadi sesuatu yang sangat asing buatku. Entah kenapa, rasanya risih bersentuhan dengan orang lain. Kalo digandeng ato dipeluk teman rasanya merinding dan, sejujurnya, jijik. Mungkin karena dari kecil terbiasa sangat sendiri menghadapi kesulitan dan kekerasan dan menyaksikan orang berpaling muka atau diam menonton. Mungkin karena terbiasa tidak banyak berinteraksi dengan orang. Mungkin. Bisa jadi emang karakter bawaan dari lahir. Hahahaha entahlah.
Baru belajar gandengan pas SMA, sekitar kelas satu. Karena teman dekat suka gandeng-gandeng tangan. Mau menolak kok gak enak hati, karena sepertinya semua orang santai saja melakukannya. Begitu juga dengan pelukan.
Tapi baru benar-benar tau 'rasanya' gandengan dan pelukan pas kelas dua. Waktu tiba2 dipeluk sahabat dan aku tiba2 juga menangis di pelukannya selama setengah jam. *Hahahahaa drama*
Nyaman sekali rasanya. Aman. Ada orang yang bisa kamu percaya utk bersandar sejenak, untuk mendengarkan perasaanmu yang terdalam, untuk menemani. Setelah aku selesai menangis, kami jalan bergandengan ke parkiran motor. Aku masih setengah terisak, tapi genggaman tangan sahabatku mengatakan bahwa segalanya akan baik2 saja.
Sejak saat itu aku punya pandangan yang berbeda soal gandengan dan pelukan. Bukan lagi sesuatu yang menjijikkan, tapi menguatkan. Aku tetap tidak banyak menggandeng atau memeluk. Namun, jika itu kulakukan, itulah pernyataan komitmenku untuk berjalan dan menghadapi situasi sama-sama. Demikian juga kalo aku menyambut tawaran gandengan atau pelukan orang. Artinya: aku percaya sepenuhnya.
***
Bulan-bulan belakangan, perasaan-perasaan lama timbul lagi. Perasaan asing dan aneh saat mendapat tawaran/ajakan bergandengan atau berpelukan. Rasa ragu, skeptis, bahkan jijik. Aku sendiri jauh lebih jarang menggandeng & memeluk orang, dan relatif canggung jika melakukannya.
Ada apakah gerangan?
Hahahaha
Semoga tidak berarti aku kehilangan kepercayaan sama orang. Atau lebih buruk lagi: kehilangan kepercayaan pada diri sendiri.
Semoga..

