Dua minggu
yang lalu, aku mengambil bibit sirih dari rumah kawan. Rencananya, sirih ini
akan kutanam di kebun samping rumah agar jadi pagar hidup. Sayangnya, aku
kehabisan uang sehingga tak segera bisa membuat rambatan untuk sirih itu. Lagipula,
rupanya tanah di rumahku berjenis tanah liat campur kapur, sehingga sulit untuk
langsung ditanami. Aku harus mengolah tanahnya terlibih dahulu.
Alhasil,
bibit sirih yang sudah kuambil tadi terpaksa kudiamkan dulu. Oya, yang kumaksud
bibit adalah aku mencabut sirih dari kebun kawanku, lengkap dengan akar,
batang, dan dedaunannya. Hari kedua, kupotong daun-daun sirih itu untuk
mengurangi penguapan. Tersisalah batang dan akar, yang kemudian kusimpan di
sisi sumur. Hari kelima, kulihat bibit sirihku mulai mengering. Dugaanku,
tempat penyimpanannya kurang lembab. Maka kupindah ke kamar mandi. Genap seminggu,
bibit sirihku memang lembab. Tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan. Aku panik. Tanah
untuk bertanam belum siap, untuk beli media tanam khusus aku tak punya uang.
Akhirnya kuputuskan
untuk sebisanya mengolah sebagian tanah liat dari kebun. Kucampur dengan pasir
dan sampah dedaunan, lalu kusisihkan di ruang belakang rumah yang bisa kena
cahaya matahari di pagi hingga sore hari. Kuletakkan tanah itu di atas beberapa
lembar kertas bekas bungkus semen, lalu kupotong-potong si bibit dan
kutata di atas tanah tadi.
Hari demi
hari aku mengecek kondisi bibitku, sembari menyiramkan air. Setelah tiga hari
lamanya kuletakkan di atas media tanam, bibitku tetap kering. Makin kering,
bahkan. Aku hampir putus asa. Tiap hari aku tetap membuka pintu dan jendela agar
cahaya matahari bisa langsung masuk, juga masih menyiramkan air. Namun aku
tidak lagi berharap apa-apa. Sudah terbayang rencana untuk membeli bibit baru
jika ada rejeki.
Entah berapa lama setelahnya, mataku tidak sengaja menangkap helai putih yang muncul dari batang bibit terbesar. Akar baru!!! Satu helai saja, tapi sudah sekitar lima sentimeter panjangnya. Takjub, aku pun mulai menengok batang lainnya. Ternyata hampir semua telah menghasilkan akar baru. Sebagian masih sangat kecil dan tidak terlalu nampak. Tapi ada juga yang akarnya sudah banyak dan menembus celah-celah tanah.
Entah berapa lama setelahnya, mataku tidak sengaja menangkap helai putih yang muncul dari batang bibit terbesar. Akar baru!!! Satu helai saja, tapi sudah sekitar lima sentimeter panjangnya. Takjub, aku pun mulai menengok batang lainnya. Ternyata hampir semua telah menghasilkan akar baru. Sebagian masih sangat kecil dan tidak terlalu nampak. Tapi ada juga yang akarnya sudah banyak dan menembus celah-celah tanah.
Hari ini,
lewat tiga minggu sejak bibit itu kuambil dan dua minggu setelah mereka mengering,
daun-daun kecil mulai bermunculan. Aku senang sekali.
***
Mereka mengingatkanku
pada diri sendiri. Kering dan hampir mati. Seperti sudah kehabisan daya hidup. Begitulah
aku melihat diriku, setidaknya hingga akhir tahun lalu. Setelah sebelumnya
hidupku seperti dicabut, dirusak, dipangkas habis, dan dipotong-potong hingga
tak berbentuk.
Berkali-kali
aku ingin menyerah. Sekalian mati saja seraga-raganya. Toh, jiwanya juga macam
sudah mati. Tapi, mungkin, ada bagian kecil dari diriku yang masih ingin hidup.
Dan syukurnya, masih ada orang-orang di sekitarku yang tidak henti membantuku menemukan
media tanam baru, menyiramiku dengan air, dan membuka pintu agar sinar
matahari tetap menerpaku. Kini aku bisa merasakan bahwa akar-akarku mulai
tumbuh lagi. Demikian pula tunas daunnya.
Belum, aku sama sekali belum sekuat dahulu. Akarku belum mencengkeram betul-betul. Dan tunas
daunku, masih terlalu muda hingga bisa patah dengan senggolan kecil saja. Tapi aku
hidup, dan tumbuh.
***
Dua-tiga minggu
lagi, aku akan memindahkan sirihku ke lokasi tanam yang sebenarnya. Tentu aku
tidak tahu apa yang akan terjadi. Bisa jadi, mereka akan mengering lagi dan
memulai segalanya dari awal. Tapi sebagaimana aku telah menyaksikan betapa
mereka tetap hidup dan bertumbuh, aku yakin mereka juga tidak akan mati saat
kupindah nanti. Dan, jumlah mereka berlipat ganda! Yang awalnya satu kesatuan
tanaman saja, kini setidaknya ada sepuluh tanaman baru. Dari yang hanya
merampat di satu pilar rumah, akan segera terangkai jadi pagar tanaman
sepanjang 12 meter.
Aku pun
begitu. Kehidupanku sudah jauh berbeda. Mimpi-mimpiku yang terdahulu, mungkin
sudah tidak pas lagi. Aku sama sekali belum tahu bagaimana nasibku ke depannya.
Yang pasti, aku akan tetap tumbuh. Lebih kuat. Lebih bermanfaat. Seperti sirihku.
