Topless
06.14.00
Satu minggu
ini aku menghabiskan waktu bersama 15 kawan aktivis trans men lain dari
berbagai negara di Asia. Biasanya kami bertemu untuk urusan pekerjaan.
Konferensi, rapat, workshop, dan sebagainya. Kali ini berbeda, kami berkumpul sebagai
individu transgender laki-laki yang memiliki kisah masing-masing.
Ada banyak
pengalaman berharga yang kudapat sepanjang pertemuan ini. Akan kutuliskan dalam
artikel-artikel yang terpisah.
Di hari
ketiga kami mengadakan pool party dan berenang bersama. Sebagian besar kawanku
telah menjalani operasi rekonstruksi dada –yang biasa kami sebut top surgery—dan
berenang dengan telanjang dada. Aku, seperti biasa, tetap menggunakan chest
binder.
Setelah berenang
sekian putaran aku mulai kelelahan.
“Ahhh, this chest binder is killing me. So tight! I can barely breath!”
“Then take it off! We are all your brothers. Nothing to worry about,” kata
salah satu kawan yang disambut anggukan dan teriakan penyemangat dari
kawan-kawan lainnya.
Aku sempat
ragu. Namun berhubung hari sudah malam, aku yakin dadaku tak akan terlihat di
bawah air. Maka kulepas binderku dengan sukacita.
Tentu saja
masih tersisa rasa was-was di hatiku. Ada ketakutan kawanku akan mengeluarkan
tatapan ‘aneh’ tanpa sengaja. Aku tidak ingin melihat tatapan yang begitu. Dan
ternyata, tak satupun dari mereka melakukannya. Semua berjalan biasa saja. Kami
berena, bermain, dan menari di air seperti sekumpulan cis male pada umumnya. Tak
ada yang berbeda.
Esoknya,
kami kembali berenang. Kali ini di sebuah laguna yang tersembunyi di balik
pulau-pulau kecil. Saat perahu kami tiba sudah ada perahu-perahu lain di sana
yang membawa banyak turis berenang.
Hatiku melonjak
kegirangan. Laguna ini indah sekali. Aku ingin segera meloncat dan berenang
bebas di dalamnya, telanjang dada.
Wait,
what?? Telanjang dada?
Tunggu
sebentar. Ini alam terbuka. Siang hari, pula. Dadaku akan sangat terlihat
meskipun tubuhku berada di dalam air. Wait! I cannot do that!
Hatiku
mulai sibuk bicara sendiri.
Akhirnya aku terjun
ke air lengkap dengan binder tercinta. Bergabung dengan kawan-kawanku yang
telanjang dada.
“What’s up
man?”
“Hey, what’s
on your mind Baby Tama?”
Beberapa kawan
menyadari diamku yang tiba-tiba dan bertanya.
“I really
want to swim without this fucking binder man. But there are other people around
us.”
“Take it
off man. Take it off. We got you. Just take it off now,” kata kawan yang semalam
juga menyemangatiku.
Aku gugup
dan ragu, tapi kawan-kawan lain kemudian mendekat juga.
“We got
your back bro! Don’t worry!”
“Just do it
bro! We say no to body shaming. Trust us.”
“Yeaaahh,
no body shaming!” kawan-kawan lain turut berseru.
Sambil malu-malu
kulepas binderku. Kawan-kawan melingkariku, kemudian membantuku menyimpan
binder ke atas perahu.
“Come,
little brother, join us,” undang kawanku.
Aaaaahh…
aku merasa bak di surga. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku berenang
telanjang dada di alam terbuka. Setelah berenang kesana kemari bersama,
perlahan aku memisahkan diri. Berenang telentang mengikuti arus kecil. Menikmati
kelegaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Utuh dan content.
Hari berlalu
dengan cepat. Di hari terakhir, hampir semua kawanku pulang dengan kapal pagi. Hanya
empat tersisa. Kami memutuskan untuk berenang lagi di kolam. Siang itu, langit
cukup teduh. Aku kembali telanjang dada, kali ini tanpa keraguan sedikit pun.
“Hey Tama, I
saw you taking some times alone yesterday in the lagoon.”
“Errrrr
yeah man. I did enjoy myself yesterday! That was my first time to swim topless
in the nature!!! Felt soooo great!”
“So you
never swam topless before in the nature? How about in pool?”
“I did
topless once or twice, with my closest friends around me. I am grateful to have
them but you know what, it feels different.”
“How?”
“I don’t know.
Probably it was just my feeling. But well, they’re cis people. They might be
very supportive and empathetic but still… They never really know what I feel
inside. But you guys, you’ve been here, in my position right now. So being half
naked with you is not just about getting supports from friends. It’s more about
knowing that I am not alone in going through these shit. That I have my
brothers. That we are going through this together.”
Temanku hanya tersenyum, lalu berkata,
“You know,
you are such a brave guy. You have the courage that we have never had before.”
“Yeah. But
also, I have the support you might never had as well bro. You guys have done a
lot to make this happened. To make sure that young trans men like me have all
the support they need most. So thank you. Thanks to each of you.”

0 comments