Pertarungan Maskulinitas

14.06.00



Salah satu hal yang paling membuatku tidak nyaman adalah pertarungan maskulinitas. Belakangan ini, sayangnya, aku harus berkali-kali menghadapi pertarungan ini.

Kebetulan, aku sedang tertarik pada seorang perempuan. Kawan-kawan terdekatku segera menyadari hal ini, tentu saja. Come on, I’ve never been this crazy before. Hahahaaa. Anyway, persoalan jatuh cinta –yang sangat jarang terjadi ini— kemudian membawaku pada konteks pertarungan maskulinitas yang jarang kualami juga.


Pertama. Dua temanku, yang mengidentifikasi diri sebagai laki-laki, mulai mengeluarkan candaan berbau seksual. Misalnya, “Dia cantik banget, buruan diajak tidur bareng.” Di saat yang hampir bersamaan, teman perempuanku yang padanya aku sedang jatuh cinta, juga digoda oleh teman-temannya. Kurang lebih mereka menanyakan hal yang sama, “Apakah Tama sudah mengajakmu tidur?” Salah seorang koleganya bahkan seolah ‘memperingatkan’ dia untuk hati-hati padaku karena aku suka dia (dan mungkin akan berakhir dengan mengajak tidur bersama).

Meski sudah menduga bahwa candaan semacam ini akan muncul, aku tetap merasa sangat tidak nyaman. Laki-laki selalu diasosiasikan dengan hubungan seks. Seolah-olah isi kepala laki-laki hanya dan harus selalu soal hubungan seks. Menjadi laki-laki artinya agresif secara seksual. Jika seorang laki-laki jatuh cinta atau tertarik pada seseorang, maka ia pasti langsung ingin ngeseks dan siap berhubungan seks. Inilah pertarungan maskulinitas yang kumaksud. Seolah kita harus menegaskan kelaki-lakian kita dengan menghitung seberapa cepat kita berhasil tidur dengan perempuan dan berapa banyak perempuan yang berhasil kita ‘tiduri’. Iya, kita ‘tiduri’, bukan sekedar mau tidur bersama kita. Well, tentu saja laki-laki yang tidak memenuhi ekspektasi itu dianggap kalah dalam pertarungan ini, kemudian dicap bukan lelaki. Not ‘man’ enough.

Yang menarik adalah, aku dan kedua temanku sudah pernah mendiskusikan soal seks ini. Kami semua ternyata sama-sama tidak memenuhi ekspektasi sosial tentang laki-laki itu. Sejauh ini kami hanya berhubungan seks dengan orang yang benar-benar kami sukai atau punya kedekatan emosional dengan kami (dan sepakat untuk tidur bersama). Pun jika kami pernah tidur dengan orang yang tidak terkoneksi secara emosional, kami bertiga sama sekali tidak menikmatinya.

Fakta ini membuatku tertawa sekaligus bertanya-tanya, jangan-jangan kebanyakan laki-laki lain sebetulnya merasakan hal yang serupa. Jika benar demikian, bukankah ini sangat ironis? Kelompok laki-laki meyakini dan menghidupi keyakinan yang sama sekali tidak sesuai dengan fakta hidup mereka. Tidak jarang aku menemui kawan yang mengaku tidur atau meniduri banyak orang hanya demi diakui kelelakian dan maskulinitasnya, padahal dalam kenyataannya mendekati orang saja malu.

Kedua, kejadian siang ini. Aku dan perempuan yang kusukai sedang minum kopi, lalu datanglah teman lelakinya dan bergabung dengan kami. Kami sudah pernah bertemu sebelumnya. Dia orang yang baik. Tidak ada alasan bagiku untuk merasa tidak nyaman. Tapi siang ini, saat dia sudah duduk bersama kami, alarm bahaya di kepalaku berbunyi keras. Butuh beberapa menit percakapan bagiku untuk akhirnya menyadari alasannya. Orang ini, entah dia sadar atau tidak, sedang menantang kelelakian atau maskulinitasku. Shit, another battle of masculinity.

Oh, perlu dicatat bahwa dia adalah cismale yang tahu kalau aku trans man yang aktif di komunitas LGBT. Dan sepertinya dia juga naksir temanku.

Sebetulnya aku tidak terlalu ingat juga apa saja yang dia bicarakan, karena dia terus-terusan membicarakan sesuatu yang hanya diketahui mereka berdua. Entah tentang institusi pendidikan tempat mereka berdua berinteraksi, keluarga, pacar/orang yang sedang mengejarnya, dan seterusnya. Aku mencoba berkali-kali untuk terlibat dalam pembicaraan (NB: kami bicara dalam bahasa inggris, teman perempuanku kebetulan bukan orang Indonesia). Tapi gestur tubuh lelaki ini jelas menolakku. Kadang terlihat merendahkan, bahkan. Atau dia akan meresponku dalam bahasa jawa atau bahasa Indonesia, sehingga otomatis pembicaraan tidak bisa berlanjut. Intinya, orang ini mengeksklusi aku dari pembicaraan.

Di sinilah letak pertarungan maskulinitas itu. Pertama, dia menganggap aku saingan (kuasumsikan bersaing mendapatkan hati temanku). Oh man, come on! Memandang perempuan sebagai tropi atau hadiah dari sebuah pertarungan? Perempuan bukanlah obyek! Menurutku, keyakinan bahwa perempuan itu subordinat dan tidak memiliki kuasa untuk memilih atau mengambil keputusan bagi dirinya sendiri, adalah sesuatu yang sangat merendahkan perempuan. Misogini.

Ini diperparah dengan bagaimana ia menggunakan standar-standar maskulinitas dalam kompetisi bodohnya itu: menunjukkan dominasi, menceritakan frustasinya (cannot handle feelings), memperlihatkan betapa ia diinginkan banyak perempuan, dsb. Orang ini seolah mau bilang padaku: yang paling maskulin lah yang akan menang. Oke, aku tidak akan membahas yang ini, karena bagiku konsep kompetisi itu sendiri sudah sangat tidak masuk akal dan sekali lagi, melecehkan perempuan.

Karena tidak ingin masuk dalam pertarungan maskulinitas yang sama sekali tidak penting itu, aku memilih diam dan menjadi pendengar saja. Sambil menengok pekerjaan di hape. Pekerjaanku jelas lebih penting dari ini. Aku sempat tertolong ketika akhirnya teman perempuanku berhasil membuka topik pembicaraan yang bisa diikuti kami bertiga.

Tampaknya penolakanku atas pertarungan maskulinitasnya justru membuat orang ini makin berang. Tiba-tiba ia membicarakan dua kucing lelakinya yang berhubungan seks dan dengan gestur jijik berseru, “Come on man, male with male!”. Yup. Ia semakin berupaya memamerkan maskulinitasnya dengan cara menghina karakter atau tindakan yang dianggap tidak maskulin atau tidak ‘man enough’. Dalam hal ini, ia seolah mau berkata bahwa aku juga tidak ‘man enough’ karena sehari-hari bergelut bersama orang-orang yang tidak ‘man enough’ juga. Okay. I am soooo done with this guy. Are you going to attack my trans identity as well, dude? Typical.

***

Yang menarik untuk diamati juga adalah bagaimana responku terhadap tantangan pertarungan maskulinitas itu. Sebagai transgender laki-laki, aku selalu dihadapkan pada tuntutan untuk menunjukkan kelelakian dan maskulinitasku. Patriarki dan hegemoni maskulinitas membuat pernyataan diri atas identitas genderku tidak pernah cukup. Bahkan faktanya, hanya dengan mengetahui bahwa aku transgender, orang dengan mudah melabeliku “bukan laki-laki seutuhnya” atau yang lebih parah menganggap aku sama sekali bukan laki-laki. Situasi jadi makin menantang karena kebetulan aku adalah orang yang berkarakter feminin: lembut, pendiam, pemalu, tidak suka kekerasan, dan sebagainya.

Sejauh ini bisa dikatakan aku cukup berhasil mengatasi dan menghindari pertarungan maskulinitas. Namun seperti yang kukatakan di atas, ada faktor ‘naksir cewek’ yang jarang muncul.

Dalam hal jatuh cinta, aku sering merasa insecure.

Aku tertarik pada perempuan. Sementara aku juga sadar, hegemoni maskulinitas telah merasuki perempuan sedemikian rupa. Artinya, kebanyakan perempuan akan cenderung mengharapkan atau mendambakan karakter-karakter maskulin dari calon pasangan atau orang yang disukainya. Karena itu gabungan antara identitas trans dan karakter femininku akhirnya membuatku takut mendekati orang yang kusuka.

Kembali ke pertarungan maskulinitas. Hari-hari ini, aku mendapati diriku sesekali masih terjebak di dalamnya. Di awal temanku memulai candaan seksualnya aku tidak cukup berani untuk menjawab, membantah atau menegur. Masih ada kekhawatiran dianggap ‘not man enough’. Sementara di kejadian hari ini, akhirnya aku terpancing untuk menunjukkan maskulinitasku dengan cara yang bodoh: ngebut dan menyalip mobil cowok itu, yang di dalamnya ada perempuan yang kusuka. Hahahahaaaa... Sounds ridiculous. I know.


***

Jadi yahhh, begitulah. Makin banyak pengalaman. J

Mungkin Kamu Ingin Lihat Ini Juga

0 comments

REKOMENDASI

[repost] LGBT dan Buruh: Saudara (Lama) dalam Solidaritas

Telah dimuat di Website PLUSH, Mei 2016 .  Sudah nonton ‘Pride’? Tentu masih ingat bagaimana 32 tahun lalu (1984) Mark Ashton dan kawan...

ada pelangi

ada pelangi
Bromo, Juli 2016