Cinta, Bercinta, dan Mencinta(i)

04.23.00



Tadi pagi pacarku tanya, kenapa telpon pagi-pagi?
Trus pacar bilang, pasti pengen meyes. Hahahahahaa.. Aku makin ngikik baca chatnya. God. Dia manis sekali.

Eniweii, belakangan aku punya beberapa pertanyaan buat diri sendiri. Hihihi. Well, seperti biasa otakku ini modenya otomatis. Otomatis mikiiiir. Hahahaha. Dibawa santai aja lah yah.

Back to the topic. Muncullah pertanyaan2 lucu itu.

Iya kah? Aku telpon gara2 pengen meyes kah? Jangan2 iya -biarpun gak aku sadari betul. Hahahaha

Jawaban spontan di hatiku sih "enggak".

Aku gak bohong, sometimes emang pengen telpon dan meyes sekaligus. Tapi beda maknanya sama telpon gara2 pengen meyes. Aku telpon soalnya kangen. Pengen denger suaranya. Pengen cerita, mau denger kabarnya hari ini. Sambil pelukan unyu atau melakukan aktivitas lain. Masak kek, kerja kek. Pokoknya barengan, gitu. Sesekali berharap bisa meyes juga. Aku gak akan tipu2. Emang gitu koook. Hahahaa. Tapi kalo emang gak bisa meyes ya gapapa.

Kalo ngebandingin mood-ku, antara gak bisa meyes sama gak bisa ngobrol santai alias ngobrolnya kaku-terinterupsi-dingin-blablabla;
moodku bakal jauh lebih ancur gara2 kejadian nomer dua. Semisal lagi gak bisa meyes, paling dalam hati cuma "yahh..". Tapi belom pernah sampe kesel, marah, kecewa ato gimana. Padahal kalo gak bisa ngobrol enak, mood bakal buruk seharian.

Trus aku jadi ngitung, seberapa sering kami meyes pas telponan. Hahahahaaa. Ternyata emang sering sihhh. Wakakakakakakakk.,.. Aaaak, jadi maluuu. *tutup muka*

Hitung yang telepon berlama2 aja, yah. Yang telepon singkat ga usah dihitung. Kayaknya hampir setiap telpon panjang ada sesi meyesnya. Kalo sampe gak meyes, biasanya gara2 momennya gak pas. Misalnya lagi ada orang lain ato gak nemu tempat pas. Hahahaha.. Aduh maaaakk.

Jadi nanya sm diri sendiri, emang kamu semesum itu yah Tams? Hahahahaa..
Sebenernya enggak juga sih yah. Mesum itu kan semacam, dikit2 pengen meyes, dikit2 mikirin meyes. Ga mesti sama pacar/pasangan to. Aku gak segampang itu horny. Tapi kalo sama pacar tersayang, jadinya emang sering horny. Hahahaha

Terus, Kalo lagi horny ato pengen meyes sama pacar, what am I looking for? Sebetulnya apa yang aku cari? Kebutuhan apa yang ingin kupenuhi?
Is it all about sexual needs? Really? Cuma pengen orgasme dan puas secara fisik?

Hmmm. I don't think so. Serius deh. Kalo cuma pengen ngelampiaskan kebutuhan seks, toh aku bisa nonton bokep sambil onani, kan? Toh sesekali aku melakukannya.
Tapi ini beda sama telpon (ato ketemu) pacar dan meyes.

I do need more than just orgasm. I am looking for another satisfaction. Sama dia, aku pengen peluk. Pengen deket. Pengen cium dan menghirup aromanya dalam2. Ingin merasakan dia dan takut kehilangan. Ingin peluk selagi bener2 masih bisa.

Setiap lagi sama dia, entah di telpon ato secara fisik lagi barengan, pengen banget nunjukin betapa aku sayang sama dia. Aku ada, dan aku sayang. Somehow, aku merasakan kalau dia juga butuh sentuhan fisik atau suaraku untuk merasakan aku. Keberadaanku. Dan itulah yang ingin aku jawab. Sayang, here I am. I do love you, and I promise to be with you as long as you need me to be.

Beberapa orang bilang kalo sentuhan fisik itu semu, tidak membuktikan apapun termasuk rasa sayang dan kesungguhan. Beberapa berpendapat sebaliknya, sentuhan fisik means nothing, ga punya arti apa-apa dari sekedar fisik. Sekedar kebutuhan biologis aja, gak ada hubungannya sama sayang, komitmen, etc.

And to be honest, aku gak sepakat sama dua2nya. Buatku, sentuhan fisik membutktikan segalanya. Okay, let's make it clear. Yang kumaksud sentuhan fisik itu gak cuma meyes, yah, tapi segala bentuk sentuhan. Sekedar mengusap rambutnya, mencium keningnya, mengendus baunya, memeluk dia dari belakang, menatap matanya dalam2. Sweet cuddles, slight kisses. Semua itu berarti. Begitu berarti. Sesuatu yang gak bisa kubagikan dengan sembarang orang.

Let's say, aku pernah cium orang lain yang tidak kucintai. Horny? Iya. Sedikit. Puas fisik? not really. Yang ada malah jadi sebel sama diri sendiri. Gak ada koneksi, dan aku jadi ngerasa gak berharga. Duh. Hahahaha.. It's just not for me. Not good for me. Will never do it again.

Pernah juga berpasangan sama orang yang gak peduli sama sentuhan. Mungkin dia termasuk golongan yang melihat kalo sentuhan itu gak punya arti dalam. We did sex just because people said that sex is a part of relationship. I did not feel any connection. And I feel worthless right after that. Iya, merasa gak berharga. Hiks. Di masa itu, sempat aku berpikir kalo mungkin aku tertekan gara2 kebutuhan seks gak terpenuhi. Setelah coba meyes sama cewek lain di luar relasi, ternyata tetep numb. Muak. Kosong. Hufff. Ternyata memang bukan itu yang aku cari...


Begitulah.

Pacarku ini, suka sekali menyentuhku (dan disentuh, tentu saja). Membangun koneksi fisik dan emosional yang selalu kudambakan dari orang yang kucintai. :)
Aku tidak bisa menjelaskannya di sini. Mungkin memang hanya bisa dirasakan, yah. Ahahaha..


Mungkin Kamu Ingin Lihat Ini Juga

0 comments

REKOMENDASI

[repost] LGBT dan Buruh: Saudara (Lama) dalam Solidaritas

Telah dimuat di Website PLUSH, Mei 2016 .  Sudah nonton ‘Pride’? Tentu masih ingat bagaimana 32 tahun lalu (1984) Mark Ashton dan kawan...

ada pelangi

ada pelangi
Bromo, Juli 2016