Mereka yang Dihadang Ombak

14.12.00



Semalam aku menghabiskan waktu di Pantai Depok bersama dua kawan. Fajar muncul lebih cepat dari dugaan. Bibir laut yang semula kosong, tiba-tiba dipenuhi lelaki yang mendorong kapal-kapal nelayan.


Tertarik pada keriuhan yang tak biasa kulihat, aku berjalan mendekat.

"Awas, awas, saiki. Kulon, kulon!"

Lebih dari sepuluh orang bicara bersahutan sembari mendorong kapal menuju air. "Brrrrmm!!!" bising mesin kapal mulai beradu dengan deru suara ombak yang menyeret mereka ke lautan.

Gulungan ombak menyambut belasan kapal yang sudah terapung. Dalam sekejap mata, kapal-kapal itu tampak demikian kecil dan tak berdaya dibanding iringan putih buih ombak yang menjulang tinggi.

"Splaaaaassssshhh!!!"
Kapal terdepan dihantam ombak dan hilang di balik buih. Jantungku serasa terhenti. Apakah mereka baik-baik saja? Apakah kapalnya terbalik? Apakah mereka tenggelam? Apakah mereka tergulung ombak?

Satu dua detik kemudian ujung kapal nampak di balik buih. Mungil, namun demikian gagah. Kali ini sudah di lautan biru, tanpa ombak tinggi.

Kapal demi kapal menyusul. Tak segera. Tenang mereka menanti. Kapal bergoyang terombang-ambing. Sementara nakhoda menatap tajam ke depan, ke arah datangnya ombak. Kawannya bersiaga di belakang, tangan tak lepas dari kemudi.

"Oh, mereka menanti saat yang tepat untuk maju," pikirku.

Ombak kecil datang. Mereka tak beranjak. Lalu ombak yang lebih besar. Mereka masih di tempat yang sama. Aku mulai gusar. "Kenapa tak segera? Sebelum ombak yang lebih besar datang!"

Di kejauhan buih kecil bergulung membesar. Mendekat. Nakhoda membungkukkan badan, tangan berpegangan pada sisi-sisi kapal. Kepalanya bergeming. Tak menengok, tak berpaling. Tepat ketika ombak menjulang sedemikian tinggi di hadapan, kapal bergerak maju. Cepat. Lagi-lagi hilang ditelan buih-buih putih. Sebelum ujung kapal kembali muncul. Mencuat tinggi, seolah hendak terpelanting. Namun tidak. Kapal terus melaju. Terhempas naik turun di air. Kemudian tenang. Maju. Dan menghilang dari pandangan.

Ketakjuban membuatku mengamati kapal demi kapal. Satu kapal maju menerjang ombak besar. Tak kusangka, ombak yang jauh lebih besar muncul di hadapan kapal itu. Mereka terhempas, terseret, dan terpaksa kembali ke bibir laut. Pengemudi sigap mengendalikan arah kapal. Tenang kembali. Bersiap lagi. Menanti lagi. Ombak pertama. Ombak kedua. Satu ombak terbesar, dan tibalah mereka di balik buih putih. Nakhoda muda menengok ke belakang, melambaikan tangan pada gerombolan lelaki di pinggir pantai yang membalas dengan sorak bangga.

Hari ini aku menyaksikan kesabaran. Keteguhan. Keyakinan.

Mereka yang tak gentar dihadang ombak. Yang tajam membaca gerak dan buih air. Yang sigap mengatur kemudi. Yang saling percaya. Yang gagal. Yang belajar. Dan yang bangga.


Mungkin Kamu Ingin Lihat Ini Juga

0 comments

REKOMENDASI

[repost] LGBT dan Buruh: Saudara (Lama) dalam Solidaritas

Telah dimuat di Website PLUSH, Mei 2016 .  Sudah nonton ‘Pride’? Tentu masih ingat bagaimana 32 tahun lalu (1984) Mark Ashton dan kawan...

ada pelangi

ada pelangi
Bromo, Juli 2016