Tumbuh

10.02.00


Dua minggu yang lalu, aku mengambil bibit sirih dari rumah kawan. Rencananya, sirih ini akan kutanam di kebun samping rumah agar jadi pagar hidup. Sayangnya, aku kehabisan uang sehingga tak segera bisa membuat rambatan untuk sirih itu. Lagipula, rupanya tanah di rumahku berjenis tanah liat campur kapur, sehingga sulit untuk langsung ditanami. Aku harus mengolah tanahnya terlibih dahulu.

Alhasil, bibit sirih yang sudah kuambil tadi terpaksa kudiamkan dulu. Oya, yang kumaksud bibit adalah aku mencabut sirih dari kebun kawanku, lengkap dengan akar, batang, dan dedaunannya. Hari kedua, kupotong daun-daun sirih itu untuk mengurangi penguapan. Tersisalah batang dan akar, yang kemudian kusimpan di sisi sumur. Hari kelima, kulihat bibit sirihku mulai mengering. Dugaanku, tempat penyimpanannya kurang lembab. Maka kupindah ke kamar mandi. Genap seminggu, bibit sirihku memang lembab. Tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan. Aku panik. Tanah untuk bertanam belum siap, untuk beli media tanam khusus aku tak punya uang.

Akhirnya kuputuskan untuk sebisanya mengolah sebagian tanah liat dari kebun. Kucampur dengan pasir dan sampah dedaunan, lalu kusisihkan di ruang belakang rumah yang bisa kena cahaya matahari di pagi hingga sore hari. Kuletakkan tanah itu di atas beberapa lembar kertas bekas bungkus semen, lalu kupotong-potong si bibit dan kutata di atas tanah tadi.

Hari demi hari aku mengecek kondisi bibitku, sembari menyiramkan air. Setelah tiga hari lamanya kuletakkan di atas media tanam, bibitku tetap kering. Makin kering, bahkan. Aku hampir putus asa. Tiap hari aku tetap membuka pintu dan jendela agar cahaya matahari bisa langsung masuk, juga masih menyiramkan air. Namun aku tidak lagi berharap apa-apa. Sudah terbayang rencana untuk membeli bibit baru jika ada rejeki.

Entah berapa lama setelahnya, mataku tidak sengaja menangkap helai putih yang muncul dari batang bibit terbesar. Akar baru!!! Satu helai saja, tapi sudah sekitar lima sentimeter panjangnya. Takjub, aku pun mulai menengok batang lainnya. Ternyata hampir semua telah menghasilkan akar baru. Sebagian masih sangat kecil dan tidak terlalu nampak. Tapi ada juga yang akarnya sudah banyak dan menembus celah-celah tanah.

Hari ini, lewat tiga minggu sejak bibit itu kuambil dan dua minggu setelah mereka mengering, daun-daun kecil mulai bermunculan. Aku senang sekali.

***
Mereka mengingatkanku pada diri sendiri. Kering dan hampir mati. Seperti sudah kehabisan daya hidup. Begitulah aku melihat diriku, setidaknya hingga akhir tahun lalu. Setelah sebelumnya hidupku seperti dicabut, dirusak, dipangkas habis, dan dipotong-potong hingga tak berbentuk.

Berkali-kali aku ingin menyerah. Sekalian mati saja seraga-raganya. Toh, jiwanya juga macam sudah mati. Tapi, mungkin, ada bagian kecil dari diriku yang masih ingin hidup. Dan syukurnya, masih ada orang-orang di sekitarku yang tidak henti membantuku menemukan media tanam baru, menyiramiku dengan air, dan membuka pintu agar sinar matahari tetap menerpaku. Kini aku bisa merasakan bahwa akar-akarku mulai tumbuh lagi. Demikian pula tunas daunnya.

Belum, aku sama sekali belum sekuat dahulu. Akarku belum mencengkeram betul-betul. Dan tunas daunku, masih terlalu muda hingga bisa patah dengan senggolan kecil saja. Tapi aku hidup, dan tumbuh.

***
Dua-tiga minggu lagi, aku akan memindahkan sirihku ke lokasi tanam yang sebenarnya. Tentu aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Bisa jadi, mereka akan mengering lagi dan memulai segalanya dari awal. Tapi sebagaimana aku telah menyaksikan betapa mereka tetap hidup dan bertumbuh, aku yakin mereka juga tidak akan mati saat kupindah nanti. Dan, jumlah mereka berlipat ganda! Yang awalnya satu kesatuan tanaman saja, kini setidaknya ada sepuluh tanaman baru. Dari yang hanya merampat di satu pilar rumah, akan segera terangkai jadi pagar tanaman sepanjang 12 meter.


Aku pun begitu. Kehidupanku sudah jauh berbeda. Mimpi-mimpiku yang terdahulu, mungkin sudah tidak pas lagi. Aku sama sekali belum tahu bagaimana nasibku ke depannya. Yang pasti, aku akan tetap tumbuh. Lebih kuat. Lebih bermanfaat. Seperti sirihku.

Mungkin Kamu Ingin Lihat Ini Juga

0 comments

REKOMENDASI

[repost] LGBT dan Buruh: Saudara (Lama) dalam Solidaritas

Telah dimuat di Website PLUSH, Mei 2016 .  Sudah nonton ‘Pride’? Tentu masih ingat bagaimana 32 tahun lalu (1984) Mark Ashton dan kawan...

ada pelangi

ada pelangi
Bromo, Juli 2016