Berdiri untuk Diri

06.08.00



Hari ini saya break, ambil waktu buat diri sendiri.
Rumah udah kotor banget, mesti diberesin.

Bangun pagi. Putar musik kencang-kencang, cuci baju, jemur kasur-bantal-guling, nyapu trus ngepel.


Lagi enak-enak nyapu, Y nongol dari ruang kerjanya. Menangis.
Minta dipeluk.

Dia minta maaf atas semua sikap yang udah bikin saya merasa sangat tertekan, dan terkekang.

Saya diam. Mau ngomong apa?


Hari ini dia menangis lebih lama.


Di acara Gender Blender semalam dia sempat tanya, kita break atau break up. Saya juga cuma diam. Sambil berharap mata saya bisa memberi jawaban.
You don't get it, don't you?

Puas menangis, dia tanya lagi hal yang sama. Apakah kami hanya break untuk sama-sama refleksi atau bener-bener break up. Masih memeluk saya.



I can still be your little brother.

Apa nanti masih ada kesempatan buat kita kembali lagi?

Gak tau. Kamu tau aku ingin menikmati hidupku. Jangan bebani lagi.

Aku paham kamu pengen eksplorasi. Aku gak pernah bermaksud membatasi kamu. Aku bener2 gak mau mengekangmu. Aku sadar kamu pasti butuh bertemu lebih banyak teman sebayamu, main dan belajar sama mereka. I love you, dan aku ingin kamu berkembang.

Iya. Terima kasih. Tapi jangan belokkan intinya. Kita sama-sama tahu,
kita terus membunuh diri sendiri selama ini.

Aku masih punya banyak mimpi yang ingin kuwujudkan. Seharusnya ada kamu di mimpi-mimpi itu. Memang masih kupendam, tidak pernah kuceritakan. Aku ingin membawamu ke Amerika,
juga pulang ke NTT.

See? Betapa banyak mimpi yang akhirnya kita biarkan mati sejauh ini? 

Masih ada kesempatan untuk meraih mimpi itu sama-sama, kan?

Sebelum bicara soal mewujudkan mimpi, pastikan dulu kamu tau apa mimpimu. Berbagi tentang mimpi saja kita sudah tidak mampu lagi. 
We have lost ourselves. We both know it. 
I am so fucking tired of denying, I couldn't betray myself anymore.

Apa open relationship tidak cukup buatmu?

Untuk apa bahas itu? Bukan open relationship yang aku butuhkan. 
Aku butuh jadi diriku sendiri. Aku butuh bertemu diriku lagi. 
Kamu tau betul kamu juga butuh itu.

Don't you love me anymore?

I do. But as I've told you before, the form has changed.
This is not the love we used to have.

Apakah selama ini sikapku terlalu menguasaimu?

Entahlah. Mungkin. Justru ini momen yang tepat untuk kita masing-masing refleksi, 
berkaca, bagaimana kita selama ini.

Setelah refleksi, kita akan kembali dan membangun semuanya lagi?

Tidak. Lakukan semuanya untuk dirimu sendiri.

Please don't hate me.

I don't. And I don't want to. 
But please realize the difference now. We are not couple anymore.


And she cried again.

Sebelumnya saya selalu luluh oleh tangis itu. Lantas mengalah lagi, dan lagi, dan lagi.
Hari ini saya rasa hambar. Entah, apa saya sudah berubah jadi makhluk berhati beku, atau saya memang sudah belajar betul dari permainan manipulatif ini.


Malam.
Saya berbaring di kamar.
Dia datang lagi. Memeluk dan menangis lagi.



Mohon maklumi aku.
Aku masih akan butuh menangis di pelukanmu hingga beberapa saat ke depan.



Pelukannya makin erat. Saya diam saja. Risih sekali, sebetulnya.


Apa aku boleh datang padamu sewaktu-waktu kalau aku butuh menangis dan dipeluk?

Kamu tau betul pelukku selalu tersedia buat teman-temanku.

Jadi aku masih boleh berpelukan denganmu?



Saya kenal bahasa tubuhnya. Saya terlanjur kenal arti setiap pelukan dan sentuhannya.

Biasakan dirimu. Jangan ambil kesempatan yang tidak-tidak begitu.
Kamu tau kan bedanya teman sama pacar? Tolong hargai aku.


Bergegas saya melepaskan diri darinya.



Saya lelah.

Juga lega.


Sikap ini yang saya tunggu dari dulu.

Akhirnya saya mampu.

Mungkin Kamu Ingin Lihat Ini Juga

0 comments

REKOMENDASI

[repost] LGBT dan Buruh: Saudara (Lama) dalam Solidaritas

Telah dimuat di Website PLUSH, Mei 2016 .  Sudah nonton ‘Pride’? Tentu masih ingat bagaimana 32 tahun lalu (1984) Mark Ashton dan kawan...

ada pelangi

ada pelangi
Bromo, Juli 2016