Putus Cinta vs Putus Relasi
05.53.00Tadi temen nanya,
Habis putus cinta ya Tam?
Ngooookkkk~
Bukan. Bukan putus cinta. Putus dari mantan.
Sekarang saya punya teori baru:
Putus cinta sama putus relasi dengan (mantan) pacar itu beda.
Saya putus cinta udah lama.
Hanya saja waktu itu belum bisa putus relasi, belum bisa lepas dari status pacarannya.
Aneh ya?
Percaya deh, banyak kok yang mengalami ini.
Memutus relasi itu lebih susah dari sekedar putus cinta. Oke, waktu putus cinta kita bakal sedih, kesal, dll. Tapi lebih kesal lagi kalau kita terpaksa melanjutkan relasi yang sebenernya udah putus cintanya itu.
Putus cinta itu urusannya sama diri kita sendiri. Putus relasi itu soal orang banyak. Dampak sosialnya kejam.
Ambil contoh di kasus saya.
Buat ambil keputusan putus aja, pertimbangannya makan waktu dua tahun. Puncaknya sejak ulang tahun kedua puluh lima bulan Maret lalu.
Apa saja yang mesti saya pertimbangkan?
1. Kata Orang
Maksudnya?
Iyaa. Kata orang. Alias omongan orang.
Saya dan Y dikenal sebagai pasangan "ideal". Relasinya bertahun-tahun. Udah berhasil melewati masa-masa kampret macam coming out ke orang tua, diusir, dikeluarkan dari kerjaan, dan bisa survive! Trus, kami bisa bikin bisnis sama-sama. Sesama aktivis. Sesama ini dan itu. Terlihat saling support satu sama lain dan gak ada kekerasan dalam pacaran.
Oh ya, yang paling jadi kata orang juga: kami berdua pernah menghadapi masa di mana saya menjadi pelaku kekerasan dalam pacaran dan saya sanggup berubah.
'Kata Orang' ini saya dengar setiap hari. Ditambah dengan doa-doa mereka: semoga langgeng, pengen deh kayak kalian, semoga bisa jadi contoh baik terus, dll, dll.
Demikian seringnya 'kata orang' terucap, sampai saya percaya bahwa relasi ini emang 'ideal' dan Y begitu sempurna buat saya, dan bahwa saya bahagia.
Saat sadar betul bahwa saya udah gak bisa lagi melanjutkan relasi ini, saya masih juga meyakinkan diri sendiri berbasis 'kata orang' tadi: betapa tidak bersyukurnya saya jika memutuskan untuk lepas dari Y.
Goblok, kan?
Padahal kalau dipikir-pikir, saya kan bukan pacaran buat memenuhi ekspektasi orang. Saya kan pacaran biar saya hepi dan kami berdua bisa sama2 berkembang. Nyatanya kan kami mati dalam relasi ini. Masa iya saya mesti mati demi memenuhi ekspektasi itu?
Kalau menurut mereka relasi ini ideal, harusnya mereka mengusahakan relasinya sendiri lah, ga perlu menyadarkan harapan pada saya. *eh, saya harus latihan ngomong begini secara langsung nih*
2. Masa Pacaran yang Udah 7 Tahun
Ceritanya sepanjang tahun ini saya udah test case, ngelempar pertanyaan ke banyak temen, "Gimana kira2 kalo kami putus?"
Jawaban standar: "Yahhh, sayang banget Tams, udah 7 tahun loh."
Gosh. 7 tahun ini yang menjalani kan kami berdua yak, bukan mereka. Kok yang berat 'melepas' memori tujuh tahun jadi mereka sih? Begonya lagi, kok ya saya percaya sama mereka. Hahaha...
Umur saya baru dua lima. Pacaran sejak delapan belas. Tujuh tahun itu sudah lewat, cuma jadi kenangan. Kenapa gak ada yang menyayangkan tahun-tahun saya ke depan, yang belum saya jalani? Seandainya saya mati umur 30, masih ada lima tahun kesempatan buat belajar hal baru lagi loh. Does anyone care about that? Kenangan ya kenangan aja.
Katanya hari esok adalah hadiah. Kenapa saya gak boleh menerima hadiah saya?
3. Citra Y as an angel dan citra saya as a bad boy
Putus dari Y artinya kudu siap jadi public enemy. Y kan ibu peri buat semua orang. Kalau sampai kami putus, apapun alasannya, tetep aja saya yang bakal dicap aneh-aneh. Apalah saya ini dibandingkan Y yang bak malaikat tanpa dosa itu. Bad boy vs angel. Ya bad boy yang salah. Pasti bad boy yang bikin ulah. Mana ada angel bikin masalah?
Bukannya peduli sama citra. Tapi siapa sih yang gak males denger bisik-bisik jahat orang setiap hari tentang dirinya? Apalagi orang indon hobinya bisik-bisik doang, gak banyak yang berani konfirmasi. Duh...
---
Tiga alasan di atas sebetulnya akarnya sama sih, kembali ke nomer satu itu, "kata orang".
Ngomong emang gampang yah.
Padahal mereka gak ngalamin.
Dari sekian banyak yang berani 'ngomong' itu, berapa banyak sih yang mau care dengan kekerasan yang saya alami? Berapa yang mau tau soal ketakutan saya? Berapa yang nyadar kalau saya udah jadi orang yang berbeda? Berapa yang mau dukung apapun keputusan saya?
Dengerin curhat saya baik-baik aja mereka belum tentu mau.
Jadi ingat ibuk.
Tiap kali membahas rencana cerai dengan bapak, ibuk gak pernah lagi membahas perasaannya sendiri. Bahas perasaan anak-anaknya juga enggak. Yang terucap selalu soal dampak sosial. Hukuman gereja. Sanksi sosial dari umat gereja. Dan bagaimana sanksi-sanksi ini bisa menimbulkan luka baru yang lebih parah serta bagaimana hal itu akan sangat mempengaruhi hidup kami semua nantinya.
Well.
Buat pasangan tokoh gereja seperti mereka, yang hidupnya bener2 di lingkungan katolik, cerai jelas simalakama.
Tidak cerai, mati. Cerai, juga mati.
Sepertinya ibuk lebih memilih mati dengan cara yang sudah ia ketahui, daripada mati oleh dampak sosial perceraian yang belum bisa diterka betul bentuknya nanti.

0 comments