Kalimat itu

05.19.00



Kemaren G curhat lagi soal temen ceweknya yang ditaksir cewek lain.
Btw, adek saya ini kenapa makin sering jadi tempat curhat temen soal per-homo-an ya? Hahahaa

Oke, back to the point.

Kata temennya, cewek yang naksir ini freak. Psikopat. Beberapa kali ngikuti ke rumah diam2 lah, suka kirim SMS romantis tanpa nama lah.

Nahhh~
Akhirnyaaa, setelah beberapa kali G curhat masalah beginian,
muncul juga satu kalimat pamungkas ini!

Saya katakan pamungkas, karena biasanya diucapkan oleh orang-orang yang menceritakan LGBT people di sekitar mereka.
Aku gak masalah sih dia LGBT, tapi....
Saya tertawa terbahak-bahak waktu baca wasapnya. There you go, baby!

Senang sekali baca pernyataan itu.

Kalimat ini, hanya akan dimunculkan oleh orang-orang yang punya kecenderungan berpihak pada hak-hak LGBT dan kesetaraan pada umumnya.
Kenapa saya bilang punya kecenderungan?
Karena memang belum sepenuhnya. Bisa jadi karena belum paham isunya, atau masih ada tabrakan nilai-nilai personal orang tersebut.

And that is totally normal.

Lalu, kenapa saya senang G mengucapkan ini?

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan,
Munculnya kalimat ini akan membawa si pengucap ke step berikutnya.

Jika disampaikan pada orang yang tepat, kalimat ini akan menjadi bahan refleksi yang dalam.

Apa kamu sungguh-sungguh bisa menerima LGBT? Kalau iya, mengapa masih ada "tapi"-nya?
Kalau memang menganggap LGBT sebagai manusia sepenuhnya, yang tidak berbeda dengan lainnya, mengapa masih menyebut identitas itu saat membicarakan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan identitas sama sekali?

Manusia adalah manusia, lengkap dengan karakternya masing-masing.
Penerimaan absolut tidak akan memandang identitas yang menempel pada seseorang. Tentu saja konteksnya akan berbeda ketika kita membahas bagaimana identitas mempengaruhi relasi sosial dan konsep diri. Bagaimanapun, pandangan dan perlakuan masyarakat terhadap identitas tertentu sangat mempengaruhi hal ini dan harus diperhatikan secara serius. Namun, pada penerimaan, apa perlunya?

Ibarat lagu,
I love you just the way you are. Mampukah kita menerima seseorang sebagai dia, apa adanya, tanpa embel-embel lagi?

Kembali ke G.
Selamat yaa, sudah sampai di titik ini. Dan terima kasih sudah cerita.

Satu pertanyaan terakhir buat kamu,

Apa ada hubungan antara rasa cinta seseorang dengan orientasi seksual atau identitas gendernya?
Bukankah katamu, cinta itu universal?

Mungkin Kamu Ingin Lihat Ini Juga

0 comments

REKOMENDASI

[repost] LGBT dan Buruh: Saudara (Lama) dalam Solidaritas

Telah dimuat di Website PLUSH, Mei 2016 .  Sudah nonton ‘Pride’? Tentu masih ingat bagaimana 32 tahun lalu (1984) Mark Ashton dan kawan...

ada pelangi

ada pelangi
Bromo, Juli 2016