Dalam Susah Maupun Senang
21.13.00
Semalam aku
telpon mantanku. Untuk pertama kalinya kami bicara via telpon tentang relasi
kami, setelah berbulan-bulan lamanya. Singkat cerita, dia berkali-kali bilang
bahwa aku harus bangkit dan melanjutkan hidup, dan menyatakan sesuatu yang
membuatku terdiam: menurutnya, sudah berbulan-bulan aku menceritakan kesedihan
dan kekecewaanku pada teman-teman dan hal-hal buruk yang kualami. Menurutnya,
aku tenggelam dalam dan fokus pada pikiran-pikiran negatif. Aku terdiam
mendengar ini.
Beberapa jam
sebelumnya, aku main ke rumah kawanku, kebetulan dia juga seorang konselor yang
sangat baik. Ini tahun ketiga kami saling kenal. Aku datang padanya dalam
kondisi kalut hebat. Jelang akhir obrolan, aku menceritakan secara singkat
padanya rangkaian kejadian yang kualami sejak awal 2016 hingga bulan februari
lalu. Rangkaian kejadian yang kebetulan buruk semua, datang sedemikian beruntun,
hingga akhirnya aku tiba di titik ini. Patah sepatah-patahnya. Kali ini,
kawanku yang terkejut. Baru semalam lah ia mendengar versi lebih utuh dari
kisahku.
***
Pagi ini
aku masih termenung.
Ingatanku melayang
pada kisah demi kisah. Mei 2016, baru empat bulan berjalan setelah LGBT crack
down hebat dimulai. Dua rekanku di Transmen Indonesia bilang aku grumpy dan
tidak produktif, tidak mengerjakan tugas-tugasku di Transmen Indonesia. Tiga bulan
sebelumnya, dia berkata, “Kalau ada
apa-apa cerita, ya, kita ada untuk saling mendukung,” kata-kata yang membuatku
kemudian sesekali mengabarkan situasiku sambil minta maaf karena jadi tidak
bisa maksimal di Transmen Indonesia. Aku buron, menerima dan menghadapi banyak
ancaman, evakuasi, dan berjibaku dengan keputusan-keputusan berat terkait komunitas
yang harus kuambil karena perubahan situasi yang signifikan dan tiba-tiba. Dua
bulan setelahnya, dua kawanku ini secara sepihak mengambil alih Transhition dan
Transmen Indonesia tanpa penjelasan sedikitpun dan bersikap memusuhiku.
“Kalau ada apa-apa cerita, ya, kita ada untuk
saling mendukung.”
Sepanjang awal
2016 sampai akhir 2017, tak terhitung lagi kawan meninggalkanku dengan cara tidak
baik atau berbalik menyerangku. Mereka semua punya dua persamaan. Pertama, mereka selalu bilang bahwa
mereka ada untuk mendukung. Mereka mendorongku untuk berbagi perasaan atau cerita,
khususnya tentang tantangan-tantangan berat yang sedang kami hadapi. Kedua, ketika akhirnya aku memutuskan untuk berbagi, mereka semua menudingku
sebagai orang yang pengeluh (NB: padahal
aku hanya menceritakan sedikit saja dari apa yang sebenarnya kualami dan
kurasakan), dan menggunakan ceritaku sebagai landasan tuduhan mereka serta pembenaran
atas perlakuan buruk yang kemudian mereka ambil.
***
Lucu, ya.
Betapa dukungan
berakhir jadi retorika belaka.
Aku itu
bukan orang yang mudah cerita. Lebih tepatnya, aku bukan orang yang mudah mempercayakan
perasaanku dan kisahku yang sebenarnya untuk diketahui oleh orang lain. Seberat
apapun masalahnya, aku cenderung memendam semuanya sendiri, berusaha untuk
menghadapi sendiri.
Banyak orang
memprotes sikapku. Mereka bilang, ketidakpercayaanku melukai mereka, membuat
mereka merasa tidak berharga –seolah menutup pintu terhadap dukungan yang
sebenarnya bisa mereka lakukan.
Kritik itu
membuatku kemudian belajar terbuka pada sedikit orang yang kuanggap bisa dipercaya:
mereka yang pernah sungguh-sungguh
berkata bahwa mereka siap berbagi dan mendukungku. Pasangan, dan beberapa
kawan.
Tapi aku
lupa, lidah tak bertulang. Kata-kata, tak selalu bisa dipercaya.
***
Kembali ke mantanku.
Dia adalah orang kesekian yang mengeluhkan aku yang jarang berbagi. Namun, dia
juga bukan orang pertama yang kemudian mengeluh ketika kemudian aku benar-benar
berbagi. Untungnya, tidak seperti orang-orang lainnya, dia belum tiba pada titik
memalingkan muka dan menggunakan ceritaku untuk kemudian menyerang dan
menjatuhkanku.
***
Hari ini
aku kembali belajar.
Bertindak tak
pernah semudah berucap. Janji untuk bersama dalam susah maupun senang, adalah
janji yang ternyata sangat, sangat sulit dilakukan. Demikian pula dengan
menjaga kepercayaan. Sesulit menemukan jarum dalam tumpukan rami.
Aku belajar
untuk kembali menengok standar kepercayaanku pada orang lain. Untuk tidak mudah
takluk pada janji, sebagaimana pun manisnya janji itu diucapkan.
Aku,
belajar untuk tidak memasang ekspektasi terlalu tinggi. Artinya, pun ketika
akhirnya aku mempercayai orang lain, aku harus selalu siap untuk kepercayaan
itu terlanggar.
Aku juga
belajar untuk menjadi kawan dan pasangan yang lebih baik. Yang tidak mengucap
janji jika aku tidak yakin mampu melakukannya. Berupaya untuk tidak menghakimi.
Untuk memberikan dukungan yang sebenar-benarnya. Dan kalaupun tidak sanggup
untuk mendukung secara aktif, aku belajar untuk tidak melanggar kepercayaan dan
menggunakan kepercayaan itu untuk menghakimi, menjatuhkan, atau menyerang
mereka. Being a good listener is more than enough…
***
Akhir kata,
Orang boleh
berkata aku lemah, pengeluh, dan seterusnya. Aku tidak perlu membuktikan apapun
pada mereka. Terserah lah mau bilang apa. Tapi aku harus mengatakan ini pada
diriku sendiri:
Kamu lah
yang paling tahu betapa dua tahun ini adalah masa paling berat dalam hidupmu. Tapi
kamu masih di sini. Menyelesaikan tugas dan komitmenmu hingga akhir meskipun harus
berakhir babak belur dan barely alive. Sekarat. Kamu masih hidup dan berusaha
hidup, meski merangkak-rangkak setangah mati. Artinya, kamu juga lah yang sesungguhnya
paling tau betapa kuatnya dirimu. So hang on. Hold on. To yourself and yourself
only.
***
Untuk setiap
orang yang tidak pernah kehilangan kepercayaannya padaku,
Yang berjanji
mendukungku dan bersetia pada janjinya,
Yang tidak
memalingkan muka dariku betapapun menyebalkannya sikapku dalam masa-masa
tersulit ini:
Ibu,
adik-adik, bapak, dan sedikit kawan yang padanya kukirimkan tulisan ini secara
langsung,
Terima kasih.
Terima
kasih.
*
NB: kejadian2
ini membuatku berefleksi juga tentang kesehatan mental dan sistem dukungan bagi teman yang sedang menghadapi masa berat. Mungkin
kapan-kapan kutulis.
0 comments