we the nice people (1)

11.16.00

Hari ini ngobrol dengan kawan baik yang baru saja merampungkan ujian tesisnya. Selesai ujian, kami merayakannya dengan menikmati penyetan Mas Kobis. Dia gak ikut makan sih, soalnya puasa. Hahahaha~

Dia duduk duluan, aku menyusul dengan nasi segunung plus sepiring penuh lauk. Baru saja pantatku menyentuh kursi, dia berujar,

"Kamu tahu, mudah bagiku untuk mendapat kesan bahwa aku ini pintar. Ini privilege (keistimewaan), sih. Aku cepat memahami atau menangkap hal-hal yang ternyata tidak mudah dipahami orang lain. Misal pelajaran di sekolah. Tapi lama-lama, orang jadi take it for granted."

*take it for granted artinya menerima begitu saja, bahkan lebih dekat ke arah menyia-nyiakan atau menganggap sepele

Aku menyimak, menatap wajahnya yang menyiratkan entah sedih, entah kecewa, mungkin juga keduanya.

"Aku ingat betul, waktu aku SD, temanku dapat nilai tujuh atau delapan di matematika. Guruku memujinya, bilang bahwa ia hebat bisa mencapai nilai itu. Sementara aku yang mendapat nilai sembilan, guruku mempertanyakan setengah memarahi, kok bisa jawabanku salah satu. Dan itu membuatku kesal. Mengapa aku diperlakukan berbeda?"

"Aku itu kaget waktu tau ada banyak laki-laki yang pergi ke dukun untuk minta aji-aji wibawa. Ya Tuhan, ada orang yang butuh ke dukun hanya untuk mendapatkan respect dari orang lain! Sementara aku, aku selalu bisa memenangkan respect orang tanpa upaya apapun. Sebagaimana orang juga langsung menganggapku pintar. Ini semakin meyakinkan kalau aku punya privilege. Aku tidak perlu mengeluarkan upaya besar, bahkan kadang tanpa upaya sedikitpun, untuk memenangkan respect orang, juga untuk memahami berbagai hal. Sementara orang lain butuh upaya keras untuk itu."

"Tapi ya begitu. Orang jadi take it for granted." 


Sesaat kami terdiam. Aku pun bertanya, apa yang membuatnya tiba-tiba membahas ini.

"Aku kesal saja waktu dosen-dosenku tadi bilang, ah kamu pasti bisa."

"Hanya karena aku sanggup mengerjakan tugas-tugas dengan sangat baik, bukan berarti kemudian aku bisa melakukan segala hal dengan semudah itu. Termasuk tesis ini."


"Bisa jadi ini bukan tentang kapasitas. Bicara kapasitas untuk mengerjakannya, aku yakin aku punya. Tapi mengerjakan sesuatu yang bukan bidangku, sesuatu yang aku merasa tidak percaya diri atasnya, yang tidak kukuasai sepenuhnya, tentu tidak mudah."


"Tapi orang meremehkan itu. Dengan mudah berkata bahwa aku pasti bisa, hanya karena aku bisa mengerjakan yang lainnya. Itu mengesalkan." 


"Privilege ini, membuat orang tidak berhenti menuntut. Mereka jadi memasang ekspektasi yang sangat tinggi terhadapku."


Aku manggut-manggut.

Pembicaraan kami melompat sebentar ke kenangan bersama, saat kami berkarya di sebuah institusi yang sama beberapa tahun lalu. Kebetulan, institusi tersebut bisa dibilang hampir vakum sekarang. Produktifitas dan fungsinya, jauh tertinggal dibanding saat kami aktif mengelolanya. Namun, respon orang terhadap kinerja kedua generasi ini juga jauh berbeda. Sekarang, relatif tak ada protes dari teman-teman kecuali bisik-bisik kecil. Sementara sebelumnya, tak peduli seproduktif dan sebaik apapun kerja kami, orang tidak pernah puas. Hanya ada kurang, kurang, dan kurang.

"Bahkan untuk mengakui bahwa kita lelah pun, salah," kata sahabatku.

(bersambung ke bagian 2)

Mungkin Kamu Ingin Lihat Ini Juga

0 comments

REKOMENDASI

[repost] LGBT dan Buruh: Saudara (Lama) dalam Solidaritas

Telah dimuat di Website PLUSH, Mei 2016 .  Sudah nonton ‘Pride’? Tentu masih ingat bagaimana 32 tahun lalu (1984) Mark Ashton dan kawan...

ada pelangi

ada pelangi
Bromo, Juli 2016